Kamis, 24 Maret 2016

ILMU PSIKOLOGI PERSPEKTIF AL-QUR’AN

                                                                                   
ILMU PSIKOLOGI PERSPEKTIF AL-QUR’AN

M A K A L A H

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Pada Mata Kuliah Psikologi Dakwah Komunikasi Penyiaran Islam di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Sirnarasa

Dosen Pengampu : Ferianto, M.Ag








  

Disusun Oleh :

1.      MUSAWAHI EGA NUGRAHA
NIREM : 113.12.0024.15
2.      AHMADI
NIREM :


SEKOLAH TINGGI ILMU DAKWAH (STID) SIRNARASA
Komplek Yayasan Pesantren Sirnarasa, Dsn. Ciceuri RT 10 / RW 05, Ds. Ciomas, Kec. Panjalu, Kab. Ciamis, Jawa Barat Indonesia





BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

            Psikologi pendidikan adalah cabang dari ilmu psikologi yang mengkhususkan diri  pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Psikologi pendidikan merupakan sumbangsih dari ilmu pengetahuan psikologi terhadap dunia pendidikan dalam kegiatan pendidikan pembelajaran, pengembangan kurikulum,  proses belajar mengajar, sistem evaluasi, dan layanan konseling merupakan serta  beberapa kegiatan utama dalam pendidikan terhadap peserta didik, pendidik, orang tua, masyarakat dan pemerintah agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara sempurna dan tepat guna.    Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Oleh karena itu, agar tujuan  pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. Dunia pendidikan khususnya di sekolah, memegang peranan penting dalam proses belajar selain instasi sekolah adalah adanya kerjasama antara guru dan siswa. Seorang guru memegang peranan penting dalam membentuk siswanya. Tidak hanya membentuk dalam  bentuk pola pikir atau pengetahuan, seorang guru juga dituntut untuk dapat membentuk siswanya dari segi tingkah laku dan emosional siswa.Seorang guru juga berperan sebagai  pengganti orang tua atau orang tua kedua bagi siswa disekolah.       Sehingga seorang guru harus dapat dan mampu memberikan contoh yang posistif atau memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Di sekolah sering sekali terdapat anak yang malas, tidak menyenangkan, suka membolos, dan lain sebagainya. Dalam hal demikian berarti bahwa guru tidak berhasil memberikan motivasi yang tepat untuk mendorong dan memberi semangat bagi anak didiknya agar dapat belajar dengan sungguh-sungguh.

B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam karya ilmiah ini adalah:
1. Apa pengertian ilmu psikologi?
2. Apa landasan ilmu psikologi?
3. Bagaimana Konsep psikologi di dalam Al-qur’an?
4. Bagaimana Psikologi dan Kepribadian Manusia dalam Al-Qur’an?

C. Tujuan Penulisan
            Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian ilmu psikologi
2. Untuk mengetahui landasan ilmu psikologi
3. Untuk mengetahui psikologi perspektif al-qur’an
4. Untuk mengetahui psikologi dan Kepribadian Manusia dalam Al-Qur’an.




BAB II
PEMBAHASAN


1.      PENGERTIAN ILMU PSIKOLOGI

Psikologi berasal dari kata Yunani “psyche” yang artinya jiwa. Logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi psikologi berarti : “ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya”. Namun pengertian antara ilmu jiwa dan psikologi sebenarnya berbeda atau tidak sama (menurut Gerungan dalam Khodijah : 2006) karena :
Ilmu jiwa adalah : ilmu jiwa secara luas termasuk khalayan dan spekulasi tentang jiwa itu.
Ilmu psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis  dengan metode-metode ilmiah.
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental. Psikologi merupakan cabang ilmu yang masih muda atau remaja. Sebab, pada awalnya psikologi merupakan bagian dari ilmu filsafat tentang jiwa manusia. Menurut plato dalam buku Psikologi Umum oleh Kartini Kartono pada tahun 1996, psikologi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat, hakikat, dan hidup jiwa manusia (psyche = jiwa ; logos = ilmu pengetahuan).
            Jiwa secara harfiah berasal dari perkataan sansekerta JIV, yang berarti lembaga hidup (levensbeginsel), atau daya hidup (levenscracht). Oleh karena jiwa itu merupakan pengertian yang abstrak, tidak bisa dilihat dan belum bisa diungkapkan secara lengkap dan jelas, maka orang lebih cenderung mempelajari “jiwa yang memateri” atau gejala “jiwa yang meraga/menjasmani”, yaitu bentuk tingkah laku manusia (segala aktivitas, perbuatan, penampilan diri) sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, psikologi butuh berabad-abad lamanya untuk memisahkan diri dari ilmu filsafat.
            Perkataan tingkah laku/perbuatan mempunyai pengertian yang luas sekali. Yaitu tidak hanya mencakup kegiatan motoris saja seperti berbicara, berjalan, berlari-lari, berolah-raga, bergerak dan lain-lain, akan tetapi juga membahas macam-macam fungsi seperti melihat, mendengar, mengingat, berpikir, fantasi, pengenalan kembali, penampilan emosi-emosi dalan bentuk tangis, senyum dan lai-lain.
            Kegiatan berpikir dan berjalan adalah sebuah kegiatan yang aktif. Setiap penampilan dari kehidupan bisa disebut sebagai aktivitas. Seseorang yang diam dan mendengarkan musik atau tengah melihat televisi tidak bisa dikatakan pasif. Maka situasi dimana sama sekali sudah tidak ada unsur keaktifan, disebut dengan mati.
            Pada pokoknya, psikologi itu menyibukkan diri dengan masalah kegiatan psikis, seperti berpikir, belajar, menanggapi, mencinta, membenci dan lain-lain. Macam-macam kegiatan psikis pada umumnya dibagi menjadi 4 kategori, yaitu: 1) pengenalan atau kognisi, 2) perasaan atau emosi, 3) kemauan atau konasi, 4) gejala campuran.
            Namun hendaknya jangan dilupakan, bahwa setiap aktivitas psikis/jiwani itu pada waktu yang sama juga merupakan aktifitas fisik/jasmani. Pada semua kegiatan jasmaniah kita, otak dan perasaan selalu ikut berperan ; juga alat indera dan otot-otot ikut mengambil bagian didalamnya.
            Penyelidikan terhadap organ-organ manusia digolongkan dalam ilmu fisiologi. Yaitu meneliti peranan setiap organ dalam fungsi-fungsi kehidupan seperti meneliti segala sesuatu tentang mata, ketika subyek bisa melihat dan juga meneliti pengaruh kerja otak untuk mengkoordinir semua perbuatan individu guna menyesuaikan dengan lingkungnnya. Jika fungsi segenap organ dan tingkah laku banyak dijelaskan oleh fisiologi, maka masih perlukah bidang keilmuan psikologi?
            Fisiologi memberikan penjelasan macam-macam tingkah laku lahiriah yang menjasmani sifatnya. Sedang manusia merupakan suatu totalitas jasmaniah rokhani. Semua bentuk dorongan dan impuls dalam diri manusia yang menyebabkan timbulnya macam-macam aktifitas fisik dan psikis, dijelaskan oleh psikologi. Misalnya, jika seseorang menaruh rasa semangat yang tinggi , ketika ia mengahadapi suatu masalah tertentu maka ia akan menaggapi masalah itu dengan semangat untuk menyelesaikannya.

2.      LANDASAN ILMU PSIKOLOGI

Landasan psikologis pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan. Kajian psikologi yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berpikir, dan belajar (Tirtarahardja, 2005: 106).

Dengan demikian, psikologi adalah satu landasan pokok dari pendidikan. Antara psikologi dengan pendidikan merupakan satu kesatuan yang sangat sulit dipisahkan. Subyek dan obyek pendidikan adalah manusia, sedangkan psikologi menelaah gejala-gejala psikologis  dari manusia. Dengan demikian keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dalam proses dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan pendidikan peranan psikologi menjadi sangat mutlak.Analisi psikologi akan membantu para pendidik memahami struktur psikologis anak didik dan kegiatan-kegiatannya, sehingga kita dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan pendidikan secara efektif.

3. KONSEP-KONSEP PSIKOLOGI DI DALAM AL-QUR’AN

            Buku “Psikologi dalam al-Qur’an” ini lahir dari buah pikiran DR. Muhammad Utsman Najati tentang psikolgi Islam. Beliau tertarik untuk memikirkan masalah al-Quran dan psikologi ketika menulis tesisnya “Panca Indera dalam Pandangan Ibnu Sina”. Menurutnya untuk memahami pandangan Ibnu Sina tentang psikologi ada baiknya terlebih dahulu memahami pemahaman-pemahaman dan mendalami berbagai konsep, pandangan, dan kajian yang ada sebelum Ibnu Sina yang sangat erat kaitannya dengan Al-Qur’an dan Sunah.
            Buku ini berisi tentang himpunan konsep dan hakikat kejiawaan yang ada di dalam al-Qur’an. Setiap ayat-ayat yang ada di dalam al-Qur’an di teliti isinya dari berbagai kitab-kitab tafsir para ulama terdahulu maupun kontemporer. Kemudian ayat-ayat yang berkaitan dengan konsep-konsep psikologi dikumpulkan dan dikemukakan dalam buku ini.
            Buku ini bukan merupakan kajian final tentang psikologi dan al-Qur’an, akan tetapi pengarang mengharapkan buku ini menjadi sumber inspirasi pengembangan Psikologi Islam dimasa yang akan datang. Buku ini secara umum mengandung dasar-dasar teoritis yang baru tentang kepribadian yang hakikat dan konsepnya sejalan dengan kebenaran dan konsep tentang manusia yang termaktub dalam al-Qur’an.
            Berikut adalah tema-tema tentang psikologi di dalam al-Qur’an yang terdapat di dalam buku ini ;
1.      Motif-motif Perilaku menurut Al-Qur’an
Motif adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup. Motif melahirkan perilaku dan mengantarkan serta mengarahkan makhluk hidu pada suatu tujuan atau tujuan-tujuan tertentu. Motif sangat urgent bagi kehidupan manusia, adanya motif mendorong manusia untuk memenuhi kebutuan hidupnya, serta menyempurnakan kekurangan-kekurangan dalam kehidupannya dan melestarikan kehidupannya.
Tema-tema motif didalam al-Qur’an terdiri dari ; a) motif fisiologis yang terdiri dari motif menjaga diri dan motif kelangsungan keturunan. b) motif mental – spiritual yang terdiri dari motif pemilikan, motif permusuhan, motif persaingan, dan motif beragama. c) motif bawah sadar. Kemudian pada bagian ini juga dikemukakan tentang pergulatan antar motif, pengendalian motif, dan penyimpangan motif.
2.      Emosi di dalam persfektif al-Qur’an
Emosi erat kaitaanya dengan motif, motif biasanya dibarengi dengan suatu kondisi yang bersifat instingtif dan emotif. Emosi akan mengarahkan perilaku seperti halnya motif, contoh emosi takut akan mendorong untuk lari dari bahaya.
Tema-tema emosi dalam persfektif al-Qur’an adalah ; a) takut, b) marah, c) cinta ; terbagi menjadi cinta pada diri sendiri, cinta kepada manusia, cinta birahi, cinta kebapakan, cinta kepada Allah, dan cinta kepada Rasul. d) senang, e) benci, f) cemburu, g) hasud, h) sedih, i) sesal, j) serta emosi-semosi lainnya seperti malu, hina, dan sombong atau takabur.           Kemudian dikemukakan juga perubahan-perubahan fisik saat emosi berlangsung seperti perubahan detak jantung, penyempitan pembuluh darah pada lambung dan usus, mengembangnya pembuluh darah pada permukaan tubuh, kedua tangan, kaki, kepala yang mengakibatkan derasnya aliran darah ke jantung. Sehingga volume darah di jantung meningkat. Kemudian penulis juga mengemukakan pengendalian emosi seperti perasaan takut mati, perasaan takut miskin, rasa marah, rasa cinta, dan emosi lainnya.
3.      Persepsi Menurut al-Qur’an
Persepsi merupakan fungsi penting dalam kehidupan manusia, dengan persepi makhluk hidup dapat mengetahui sesuatu yang mengganggunya sehingga iapun menjauhinya dan mengetahui sesuatu yang bermanfaat baginya sehingga ia pun mengupayakannya. Persepsi merupakan fungsi yang dimiliki oleh semua manusia dan hewan.
Pada bagian ini Muhammad Utsman Najati mengemukakan indera (mata, telinga, kulit, lidah, dan hidung) menurut al-Qur’an. Dikemukakan juga persepsi diluar jangkauan manusia atau extrasensosy perception seperti telestesia yaitu melihat sesuatu kejadian yang jauh dari luar jangkauan penglihatan, telepati yaitu mengetahui kata hati atau pikiran seseorang yang berada di tempat jauh, istihtaf yaitu mendengar seruan atau pembicaraan dari tempat jauh diluar jangkauan indera pendengar. Kesemuanya itu hanya ada pada segelintir orang yang memiliki bakat khusus.
Dikemukakan juga ilusi penglihatan atau kekeliruan dalam penglihatan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang dilihat, seperti fatamorgana yang disangka air pada orang yang mengalami dahaga. Selanjutnya dikemukakan juga pengaruh motivasi dan nilai terhadap perhatian dan persepsi seperti yang terjadi pada orang-orang yang beriman ketika mendengar ayat-ayat bisyarah yang menjadikan mereka dengan penuh kesadaran memahami ayat-ayat al-Qur’an.
4.      Berpikir Dalam Persfektif al-Qur’an
Berpikir merupakan proses manusia dalam menerima informasi dari luar, kemudian memproses informasi untuk mencari maknanya, dan terakhir merespon informasi. Kemampuan hipotesis, kemampuan berpikir membuat manusia pantas menyandang tugas sebagai khalifah dan beribadah. Disajikan dalam buku ini langkah-langkah berpikir dalam mengatasi masalah, yaitu merasakan adanya masalah, mengumpulkan data yang berkaitan dengan objek masalah, membuat hipotesis, menguji hipotesis, dan menverifikasi kebenaran hipotesis. Verifikasi kebenaran (penelitian eksperimental) tergambarkan dalam kisah Ibrahim as. Ketika menyampaikan permintaannya kepada Allah tentang cara mengidupkan orang mati.
Di kahir bagian ini dikemukakan beberapa kekeliruan dalam berpikir yang disebabkan oleh berpegang pada pemikiran-pemikiran lama, kekurangan data, dan bias emosi dan perasaan.
5.      Belajar Menurut al-Qur’an
Bagian ini membahas sumber-sumber ilmu di dalam al-Qur’an, belajar bahasa, bagamana adam belajar bahasa, belajar memilih dan membuat keputusan, cara-cara belajar menurut al-Qur’an (meniru/imitation, pengalaman praktis dan trial dan error, serta berpikir), prinsip-prinsip belajar menurut al-Qur’an yaitu motivasi, pengulangan, perhatian, partisipasi aktif, pembagian belajar, dan perubahan perilaku secara bertahap.
6.      Ilmu Laduni Menurut al-Qur’an
Ilmu laduni diperoleh melalui ilham dan mimpi. Ilham adalah sejenis ilmu yang dilimpahkan Allah kepada manusia dan dimasukkan ke dalam qalbunya, shingga tersingkaplah beberapa rahasia dan jelaslah beberapa hakikat baginya. Ilmu laduni banyak termuat didalam al-qur’an seperti kisah daud dan sulaiman di dalam surat al-Anbiya’. Ilham bisa bersifat ilahiah atau ilham ilahiah dan berupa al-khathiru malikiy(lintasan pikiran dari malaikat).
Mimpi merupakan hal yang lumrah terjadi dikalangan manusia. Para ulama dan pemikir mencoba menafsirkan mimpi dan mengetahui penyebabnya, kesimpulannya mimpi terjadi sebagai akibat sensasi yang dirasakan manusia saat tidur, baik sensasi dari pengaruh eksternal maupun internal. Sebagian mimpi lainnya dianggap sebagai kontinuitas kesibukan berpikir saat terjaga, sebagian lainnya sebagai pengingatan kembali atas masa lalu.
Al-Qur’an menyebut adhghatsul ahlam (mimpi yang kacau balau) yaitu mimpi yang membingungkan, kacau, dan tidak jelas. Adapun istilah ru’ya (mimpi) yang disebutkan dalam al-qur’an hanyalah mengandung arti mimpi yang benar, sebagaimana Allh menyampaikan wahyu melalui mimpi kepada rasul-Nya, contohnya adalah tentang ru’ya Yusuf as. Atau hadits-hadits qudsi dari Nabi Muhammad saw.
7.      Ingat dan Lupa Menurut al-Qur’an
Banyak ayat di dalam al-Qur’an yang mendorong manusia untuk mengingat Allah, ayat-ayat yag terdapat di dalam ciptaannya, mengingat bukti-bukti, petunjuk, kabar gembira, dan ancaman yang di bawa para rasulallah. Di dalam al-Qur’an banyak pengulangan ungkapan “afala tatadzakkarun” (tidakkah mereka ingat), “la’allahum yatadzakkarun” (agar mereka ingat), “qalilam ma tadzakkarun” (sedikit sekali mereka yang ingat), dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kandungan-kandungan al-Qur’an seperti di atas menjadi konsep tentang ingat dan lupa di dalam buku ini. Dikemukakan sub-sub konsep tentang lupa, seperti lupa dalam kaitannya dengan memori, peristiwa, kelalaian, hilangnya perhatian, dan lupa karena gangguan setan. Kemudian diakhir pembahasan ini dikemukakan penawar (terapi) lupa yang ada di dalam al-Qur’an sebagai langkah preventif mencegah kelupaan.
8.      Sistem Otak Menurut al-Quran
Kajian-kajian ilmiah kontemporer tentang anatomi dan fisiologi menemukan bahwa otak memiliki fungsi kontrol dalam tubuh manusia, seperti area motorik yang mengatur gerak / motor tubuh manusia, area sensoris sebagai tempat bermuaranya unsur peraba dan sensasi rasa sakit, perubahan temperatur suhu, dan rasa. Kemudian ada area optik yang merupakan pusat penglihatan, lalu auditori sebagai pusat pendengaran, di otak juga merupakan tempat koordinasi pesan-pesan motorik yang akan disampaikan ke seluruh tubuh. Otak juga merupakan pusat semua proses pemikiran tingkat tingg, seperti belajar, berbicara, menulis, dan membaca.
Fakta-fakta ilmiah di atas kemudian diuraikan dalam buku ini dengan mengutip ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan tentang bagaimana otak merekam pengalaman-pengalaman sepanjang kehidupan manusia, hubungan persepsi dan otak, dan hubungan aktivitas berfikir dengan otak.
9.      Kepribadian Menurut al-Qur’an
Di bagian ini penulis mengemukakan kepribadian manusia ditinjau sejak masa penciptaan manusia yang erat kaitannya dengan unsur-unsur penciptaan tersebut. Di dalam diri manusia juga disebutkan adanya pergulatan psikologis yang luar biasa antara keinginan baik dan keinginan buruk. Tapi, manusia juga mampu mencapai keseimbangan psikologis atau kepribadian yang ideal, yaitu sesuai dengan batas-batas syari’at. Kemudian membawa kepada keseimbangan antara tuntutan-tuntutan tubuh dan roh, yang disebut kepribadian normal.
Ada tiga pola kepribadian menurut al-Qur’an yang dikemukakan oleh penulis, yaitu pola kepribadian mukmin, pola kepribadian kafir, dan pola kepribadian munafik.
Manusia juga memiliki semacam mekanisme pertahanan diri sebagaimana juga yang telah dikemukakan para psikolog Barat, yaitu proyeksi, rasionalisasi, dan pembentukan reaksi.
Penulis juga mengemukakan perbedaan individu menurut al-Qur’an. Kemudian perkembangan manusia menurut al-Qur’an, yaitu sejak perkembangan pra-lahir, perkembangan pasca-lahir, dan perkembangan yang dialami oleh indera anak.
10.  Psikoterapi Menurut al-Qur’an
Di akhir buku ini penulis mengemukakan psikoterapi menurut pandangan al-Qur’an. Pertama-tama dikemukakan bahwa iman memiliki pengaruh yang sangat penting dalam kejiwaan manusia, kemudian atas dasar iman juga manusia dituntut untuk berafiliasi dengan kelompoknya (sesama orang muslim) untuk saling menebarkan kasih sayang, dimana fitrah manusia adalah tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Sehingga al-Qur’an diyaskini sebagai penyembuh atau terapi bagi problem-problem manusia.
Secara implisit penulis menyampaikan bahwa terapi-terapi al-Qur’an terkandung di dalam keseluruhan ajaran Islam, yaitu ajaran tentang aqidah tauhid, ajran tentang ibadah (sholat, puasa, zakat, dan haji), ajaran tentang kesabaran, perintah untuk berzikir, dan bertaubat atau dosa-dosa.

4. PSIKOLOGI DAN KEPRIBADIAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN
Para psikolog memandang kepribadian sebagai struktur dan proses psikologis yang tetap, yang menyusun pengalaman-pengalaman individu serta membentuk berbagai tindakan dan respons individu terhadap lingkungan tempat hidup.[5] Dalam masa pertumbuhannya, kepribadian bersifat dinamis, berubah-ubah dikarenakan pengaruh lingkungan, pengalaman hidup, ataupun pendidikan. Kepribadian tidak terjadi secara serta merta, tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang. Dengan demikian, apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk, kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan kehidupan seseorang tersebut.[6]
Pergulatan Psikologis
Dalam kepribadian manusia terkandung sifat-sifat hewan dan sifat-sifat malaikat yang terkadang timbul pergulatan antara dua aspek kepribadian manusia tersebut. Adakalanya, manusia tertarik oleh kebutuhan dan syahwat tubuhnya, dan adakalanya ia tertarik oleh kebutuhan spiritualnya.
Al-Qur’an mengisyaratkan pergulatan psikologis yang dialami oleh manusia, yakni antara kecenderungan pada kesenangan-kesenangan jasmani dan kecenderungan pada godaan-godaan kehidupan duniawi. Jadi, sangat alamiah bahwa pembawaan manusia tersebut terkandung adanya pergulatan antara kebaikan dan keburukan, antara keutamaan dan kehinaan, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi pergulatan antara aspek material dan aspek spiritual pada manusia tersebut dibutuhkan solusi yang baik, yakni dengan menciptakan keselarasan di antara keduanya.
Disamping itu, Al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa manusia berpotensi positif dan negatif. Pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat daripada potensi negatifnya. Hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dibanding daya tarik kebaikan.[7]
Potensi positif dan negatif manusia ini banyak diungkap oleh Al-Qur’an. Di antaranya ada dua ayat yang menyebutkan potensi positif manusia, yaitu Surah at-Tin [95] ayat 5 (manusia diciptakan dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya) dan Surah al-Isra’ [7] ayat 70 (manusia dimuliakan oleh Allah dibandingkan dengan kebanyakan makhlik-makhluk yang lain). Di samping itu, banyak juga ayat Al-Qur’an yang mencela manusia dan memberikan cap negatif terhadap manusia. Di antaranya adalah manusia amat aniaya serta mengingkari nikmat (Q.S. Ibrahim [14]: 34), manusia sangat banyak membantah (Q.S. al-Kahfi [18]: 54), dan manusia bersifat keluh kesah lagi kikir (Q.S. al-Ma’arij [70]: 19).[8]
Sebenarnya, dua potensi manusia yang saling bertolak belakang ini diakibatkan oleh perseteruan di antara tiga macam nafsu, yaitu nafsu ammarah bi as-suu’ (jiwa yang selalu menyuruh kepada keburukan), lihat Surah Yusuf [12] ayat 53; nafsu lawwamah (jiwa yang amat mencela), lihat Surah al-Qiyamah [75] ayat 1-2; dan nafsu muthma’innah (jiwa yang tenteram), lihat Surah al-Fajr [89] ayat 27-30.[9] Konsepsi dari ketiga nafsu tersebut merupakan beberapa kondisi yang berbeda yang menjadi sifat suatu jiwa di tengah-tengah pergulatan psikologis antara aspek material dan aspek spiritual.[10]
Pola-pola Kepribadian Menurut Al-Qur’an
Kepribadian merupakan “keniscayaan”, suatu bagian dalam (interior) dari diri kita yang masih perlu digali dan ditemukan agar sampai kepada keyakinan siapakah diri kita yang sesungguhnya. Dalam Al-Qur’an Allah telah menerangkan model kepribadian manusia yang memiliki keistimewaan dibanding model kepribadian lainnya. Di antaranya adalah Surah al-Baqarah [2] ayat 1-20. Rangkaian ayat ini menggambarkan tiga model kepribadian manusia, yakni kepribadian orang beriman, kepribadian orang kafir, dan kepribadian orang munafik.[11]
Berikut ini adalah sifat-sifat atau ciri-ciri dari masing-masing tipe kepribadian berdasarkan apa yang dijelaskan dalam rangkaian ayat tersebut.
a. Kepribadian Orang Beriman (Mu’minun)
Dikatakan beriman bila ia percaya pada rukun iman yang terdiri atas iman kepada Allah swt., iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada Kitab-kitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, percaya pada Hari Akhir, dan percaya pada ketentuan Allah (qadar/takdir). Rasa percaya yang kuat terhadap rukun iman tersebut akan membentuk nilai-nilai yang melandasi seluruh aktivitasnya. Dengan nilai-nilai itu, setiap individu seyogianya memiliki kepribadian yang lurus atau kepribadian yang sehat. Orang yang memiliki kepribadian lurus dan sehat ini memiliki ciri-ciri antara lain:
Akan bersikap moderat dalam segala aspek kehidupan,
Rendah hati di hadapan Allah dan juga terhadap sesama manusia,
Senang menuntut ilmu,
Sabar,
Jujur, dan lain-lain.[12]
Gambaran manusia mukmin dengan segenap ciri yang terdapat dalam Al-Qur’an ini merupakan gambaran manusia paripurna (insan kamil) dalam kehidupan ini, dalam batas yang mungkin dicapai oleh manusia. Allah menghendaki kita untuk dapat berusaha mewujudkannya dalam diri kita. Rasulullah saw. telah membina generasi pertama kaum mukminin atas dasar ciri-ciri tersebut. Beliau berhasil mengubah kepribadian mereka secara total serta membentuk mereka sebagai mukmin sejati yang mampu mengubah wajah sejarah dengan kekuatan pribadi dan kemuliaan akhlak mereka.[13] Singkatnya, kepribadian orang beriman dapat menjadi teladan bagi orang lain.
b. Kepribadian Orang Kafir (Kafirun)
Ciri-ciri orang kafir yang diungkapkan dalam Al-Qur’an antara lain:
Suka putus asa,
Tidak menikmati kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupannya,
Tidak percaya pada rukun iman yang selama ini menjadi pedoman keyakinan umat Islam,
Mereka tidak mau mendengar dan berpikir tentang kebenaran yang diyakini kaum Muslim,
Mereka sering tidak setia pada janji, bersikap sombong, suka dengki, cenderung memusuhi orang-orang beriman,
Mereka suka kehidupan hedonis, kehidupan yang serba berlandaskan hal-hal yang bersifat material. Tujuan hidup mereka hanya kesuksesan duniawi, sehingga sering kali berakibat ketidakseimbangan pada kepribadian,
Mereka pun tertutup pada pengetahuan ketauhidan, dan lain-lain.
Ciri-ciri orang kafir sebagaimana yang tergambar dalam Al-Qur’an tersebut menyebabkan mereka kehilangan keseimbangan kepribadian, yang akibatnya mereka mengalami penyimpangan ke arah pemuasan syahwat serta kesenangan lahiriah dan duniawi. Hal ini membuat mereka kehilangan satu tujuan tertentu dalam kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah dan mengharap rida-Nya untuk mengharap magfirah serta pahala-Nya di dunia dan akhirat.[14]
c. Kepribadian Orang Munafik (Munafiqun)
Munafik adalah segolongan orang yang berkepribadian sangat lemah dan bimbang. Di antara sifat atau watak orang munafik yang tergambar dalam Al-Qur’an antara lain:
Mereka “lupa” dan menuhankan sesuatu atau seseorang selain Allah swt.,
Dalam berbicara mereka suka berdusta,
Mereka menutup pendengaran, penglihatan, dan perasaannya dari kebenaran,
Orang-orang munafik ialah kelompok manusia dengan kepribadian yang lemah, peragu, dan tidak mempunyai sikap yang tegas dalam masalah keimanan.
Mereka bersifat hipokrit, yakni sombong, angkuh, dan cepat berputus asa.
Ciri kepribadian orang munafik yang paling mendasar adalah kebimbangannya antara keimanan dan kekafiran serta ketidakmampuannya membuat sikap yang tegas dan jelas berkaitan dengan keyakinan bertauhid.
Dengan demikian, umat Islam sangat beruntung mendapatkan rujukan yang paling benar tentang kepribadian dibanding teori-teori lainnya, terutama diyakini rujukan tersebut adalah wahyu dari Allah swt. yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw., manusia teladan kekasih Allah. Oleh karena itu pula, Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah swt. ke muka bumi untuk memainkan peran sebagai model insan kamil bagi umat manusia. Kepribadian dalam kehidupan sehari-hari mengandung sifat-sifat manusiawi kita, alam pikiran, emosi, bagian interior kita yang berkembang melalui interaksi indra-indra fisik dengan lingkungan. Namun lebih dalam lagi, kepribadian sesungguhnya merupakan produk kondisi jiwa (nafs) kita yang saling berhubungan. Atau, dapat dikatakan pula bahwa kepribadian seseorang berbanding lurus dengan kondisi jiwanya (nafs).[15]
Berangkat dari teori kepribadian di atas, maka kita dapat membagi kepribadian manusia menjadi dua macam, yaitu:
1. Kepribadian kemanusiaan (basyariyyah)
Kepribadian kemanusiaan di sini mencakup kepribadian individu dan kepribadian ummah. Kepribadian individu di antaranya melliputi ciri khas seseorang dalam bentuk sikap, tingkah laku, dan intelektual yang dimiliki masing-masing secara khas sehingga ia berbeda dengan orang lain. Dalam pandangan Islam, manusia memang mempunyai potensi yang berbeda (al-farq al-fardiyyah) yang meliputi aspek fisik dan psikis. Selanjutnya, kepribadian ummah meliputi ciri khas kepribadian muslim sebagai suatu ummah (bangsa/negara) muslim yang meliputi sikap dan tingkah laku ummah muslim yang berbeda dengan ummah lainnya, mempunyai ciri khas kelompok dan memiliki kemampuan untuk mempertahankan identitas tersebut dari pengaruh luar, baik ideologi maupun lainnya yang dapat memberikan dampak negatif.[16]
2. Kepribadian samawi (kewahyuan)
Yaitu, corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab suci Al-Qur’an, sebagaimana termaktub dalam firman Allah sebagai berikut.

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  .

Dan, bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Q.S. al-An’am [6]: 153)
Itulah beberapa gambaran mengenai psikologi dan kepribadian manusia dalam Al-Qur’an. Tentu gambaran di atas belum sepenuhnya berhasil meng-cover keseluruhan maksud Al-Qur’an mengenai manusia dengan segala kepribadiannya yang sangat kompleks. Sebab, begitu luasnya aspek kepribadian manusia sehingga usaha untuk mengungkap hakikat manusia merupakan pekerjaan yang sukar.
Walaupun demikian, paling tidak penjelasan di atas dapat memberikan gambaran bahwa manusia memiliki dua potensi yang saling berlawanan, yaitu potensi baik dan potensi buruk. Dua potensi ini lantas memilah manusia ke dalam tiga kategori, yaitu mukmin, kafir, dan munafik. Pembinaan kepribadian manusia lewat pendidikan yang baik akan menuntun manusia agar bisa memperkokoh potensi baiknya sehingga ia bisa memaksimalkan tugas utamanya untuk beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah Allah di muka bumi.





BAB III
PENUTUP




KESIMPULAN

Telah dikemukakan di atas tentang tema-tema psikologi di dalam al-Qur’an atau konsep-konsep yang berkaitan dengan psikologi. Dari tema-tema yang dikemukakan di atas banyak juga kita temui dalam konsep-konsep teori psikologi Barat, seperti motif, motivasi, memori, berfikir, belajar, mekanisme pertahanan diri, otak, dan sebagainya.
            Konsep-konsep psikologi di dalam al-Qur’an yang dikemukakan Muhammad Utsman Najati belumlah sempurna. Sebab masih bersifat mistis atau bersifat mistifikasi, yaitu mengungkapkan konsep-konsep psikologi di dalam al-Qur’an sebatas ayat-ayat atau dalil-dalil nash yang ditafsirkan mengandung konsep psikologi. Namun, secara kongkrit masih belum bisa di buktikan. Sehingga masih membutuhkan riset-riset ilmiah atau teori-teori lain yang mendukung konsep-konsep tersebut menjadi lebih mudah di fahami dan ditelaah secara ilmiah.




                                                  

DAFTAR PUSTAKA


Dalyono, M., Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2001.
Iskandar Dr. M.Pd. 2009. Psikologi Pendidikan. Jambi: Gaung Persada (PS) Press
Makmun, Abin Syamsuddin. 2004. Psikologi Kependidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ningsih, Asri Budi, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2005.
Fauzi, Ahmad.1997.Psikologi umum.Bandung:CV. Pustaka Setia
Sumanto, Wasty.1988.Pengantar Psikologi.Jakarta: PT. Bina Aksara
Ahmadi, Abu.1992.Psikologi Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta
 Ancok, D., & Nashori, F., 1994,
 Psikologi Islami, Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar Mubarok, Achmad. 2000.
Solusi Krisis Keruhanian Manusia Modern: Jiwa dalam Al Qur’an
. Jakarta: Paramadina. Pizaro. 2012.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar