ILMU PSIKOLOGI
PERSPEKTIF AL-QUR’AN
M A K A L A H
Diajukan Untuk
Memenuhi Salah Satu Tugas Pada Mata Kuliah Psikologi Dakwah Komunikasi
Penyiaran Islam di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Sirnarasa
Dosen Pengampu
: Ferianto, M.Ag
Disusun Oleh :
1.
MUSAWAHI EGA NUGRAHA
NIREM : 113.12.0024.15
2.
AHMADI
NIREM :
SEKOLAH TINGGI
ILMU DAKWAH (STID) SIRNARASA
Komplek
Yayasan Pesantren Sirnarasa, Dsn. Ciceuri RT 10 / RW 05, Ds. Ciomas, Kec.
Panjalu, Kab. Ciamis, Jawa Barat Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Psikologi
pendidikan adalah cabang dari ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada
cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.
Psikologi pendidikan merupakan sumbangsih dari ilmu pengetahuan psikologi
terhadap dunia pendidikan dalam kegiatan pendidikan pembelajaran, pengembangan
kurikulum, proses belajar mengajar, sistem evaluasi, dan layanan
konseling merupakan serta beberapa kegiatan utama dalam pendidikan terhadap
peserta didik, pendidik, orang tua, masyarakat dan pemerintah agar tujuan
pendidikan dapat tercapai secara sempurna dan tepat
guna. Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari
psikologi. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara
efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut
seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan
perilakunya secara efektif. Dunia pendidikan khususnya di sekolah, memegang
peranan penting dalam proses belajar selain instasi sekolah adalah adanya
kerjasama antara guru dan siswa. Seorang guru memegang peranan penting dalam
membentuk siswanya. Tidak hanya membentuk dalam bentuk pola pikir atau
pengetahuan, seorang guru juga dituntut untuk dapat membentuk siswanya dari
segi tingkah laku dan emosional siswa.Seorang guru juga berperan sebagai
pengganti orang tua atau orang tua kedua bagi siswa
disekolah. Sehingga seorang guru harus
dapat dan mampu memberikan contoh yang posistif atau memberikan motivasi yang
baik bagi siswa. Di sekolah sering sekali terdapat anak yang malas, tidak
menyenangkan, suka membolos, dan lain sebagainya. Dalam hal demikian berarti
bahwa guru tidak berhasil memberikan motivasi yang tepat untuk mendorong dan
memberi semangat bagi anak didiknya agar dapat belajar dengan sungguh-sungguh.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam karya ilmiah ini adalah:
1. Apa pengertian ilmu psikologi?
2. Apa landasan ilmu psikologi?
3. Bagaimana Konsep psikologi di dalam Al-qur’an?
4. Bagaimana Psikologi dan
Kepribadian Manusia dalam Al-Qur’an?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah tersebut, maka tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian ilmu psikologi
2. Untuk mengetahui landasan ilmu psikologi
3. Untuk mengetahui psikologi perspektif al-qur’an
4. Untuk
mengetahui psikologi dan Kepribadian
Manusia dalam Al-Qur’an.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
PENGERTIAN ILMU PSIKOLOGI
Psikologi
berasal dari kata Yunani “psyche” yang artinya jiwa. Logos berarti ilmu
pengetahuan. Jadi secara etimologi psikologi berarti : “ilmu yang mempelajari
tentang jiwa, baik mengenai gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya”.
Namun pengertian antara ilmu jiwa dan psikologi sebenarnya berbeda atau tidak
sama (menurut Gerungan dalam Khodijah : 2006) karena :
Ilmu jiwa adalah : ilmu jiwa
secara luas termasuk khalayan dan spekulasi tentang jiwa itu.
Ilmu psikologi adalah ilmu
pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan
metode-metode ilmiah.
Psikologi adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental. Psikologi merupakan cabang
ilmu yang masih muda atau remaja. Sebab, pada awalnya psikologi merupakan bagian dari
ilmu filsafat tentang jiwa manusia. Menurut plato dalam buku Psikologi Umum
oleh Kartini Kartono pada tahun 1996, psikologi berarti ilmu pengetahuan yang
mempelajari sifat, hakikat, dan hidup jiwa manusia (psyche = jiwa
; logos = ilmu pengetahuan).
Jiwa
secara harfiah berasal dari perkataan sansekerta JIV, yang berarti
lembaga hidup (levensbeginsel), atau daya hidup (levenscracht).
Oleh karena jiwa itu merupakan pengertian yang abstrak, tidak bisa dilihat dan
belum bisa diungkapkan secara lengkap dan jelas, maka orang lebih cenderung
mempelajari “jiwa yang memateri” atau gejala “jiwa yang meraga/menjasmani”,
yaitu bentuk tingkah laku manusia (segala aktivitas, perbuatan, penampilan
diri) sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, psikologi butuh berabad-abad lamanya
untuk memisahkan diri dari ilmu filsafat.
Perkataan
tingkah laku/perbuatan mempunyai pengertian yang luas sekali. Yaitu tidak hanya
mencakup kegiatan motoris saja seperti berbicara, berjalan, berlari-lari,
berolah-raga, bergerak dan lain-lain, akan tetapi juga membahas macam-macam
fungsi seperti melihat, mendengar, mengingat, berpikir, fantasi, pengenalan
kembali, penampilan emosi-emosi dalan bentuk tangis, senyum dan lai-lain.
Kegiatan
berpikir dan berjalan adalah sebuah kegiatan yang aktif. Setiap penampilan dari
kehidupan bisa disebut sebagai aktivitas. Seseorang yang diam dan mendengarkan
musik atau tengah melihat televisi tidak bisa dikatakan pasif. Maka situasi
dimana sama sekali sudah tidak ada unsur keaktifan, disebut dengan mati.
Pada
pokoknya, psikologi itu menyibukkan diri dengan masalah kegiatan psikis, seperti
berpikir, belajar, menanggapi, mencinta, membenci dan lain-lain. Macam-macam
kegiatan psikis pada umumnya dibagi menjadi 4 kategori, yaitu: 1) pengenalan
atau kognisi, 2) perasaan atau emosi, 3) kemauan atau konasi, 4) gejala
campuran.
Namun
hendaknya jangan dilupakan, bahwa setiap aktivitas psikis/jiwani itu pada waktu
yang sama juga merupakan aktifitas fisik/jasmani. Pada semua kegiatan jasmaniah
kita, otak dan perasaan selalu ikut berperan ; juga alat indera dan otot-otot
ikut mengambil bagian didalamnya.
Penyelidikan
terhadap organ-organ manusia digolongkan dalam ilmu fisiologi. Yaitu meneliti
peranan setiap organ dalam fungsi-fungsi kehidupan seperti meneliti segala
sesuatu tentang mata, ketika subyek bisa melihat dan juga meneliti pengaruh
kerja otak untuk mengkoordinir semua perbuatan individu guna menyesuaikan
dengan lingkungnnya. Jika fungsi segenap organ dan tingkah laku banyak
dijelaskan oleh fisiologi, maka masih perlukah bidang keilmuan psikologi?
Fisiologi
memberikan penjelasan macam-macam tingkah laku lahiriah yang menjasmani
sifatnya. Sedang manusia merupakan suatu totalitas jasmaniah rokhani. Semua
bentuk dorongan dan impuls dalam diri manusia yang menyebabkan timbulnya
macam-macam aktifitas fisik dan psikis, dijelaskan oleh psikologi. Misalnya,
jika seseorang menaruh rasa semangat yang tinggi , ketika ia mengahadapi suatu
masalah tertentu maka ia akan menaggapi masalah itu dengan semangat untuk
menyelesaikannya.
2.
LANDASAN ILMU PSIKOLOGI
Landasan psikologis pendidikan adalah suatu landasan dalam proses
pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada
umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada
setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia
sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan
proses pendidikan. Kajian psikologi yang erat hubungannya dengan pendidikan
adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berpikir, dan belajar (Tirtarahardja,
2005: 106).
Dengan
demikian, psikologi adalah satu landasan pokok dari pendidikan. Antara
psikologi dengan pendidikan merupakan satu kesatuan yang sangat sulit
dipisahkan. Subyek dan obyek pendidikan adalah manusia, sedangkan psikologi
menelaah gejala-gejala psikologis dari manusia. Dengan demikian keduanya
menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dalam proses dan pelaksanaan
kegiatan-kegiatan pendidikan peranan psikologi menjadi sangat mutlak.Analisi
psikologi akan membantu para pendidik memahami struktur psikologis anak didik
dan kegiatan-kegiatannya, sehingga kita dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan
pendidikan secara efektif.
3. KONSEP-KONSEP PSIKOLOGI DI DALAM AL-QUR’AN
Buku
“Psikologi dalam al-Qur’an” ini lahir dari buah pikiran DR. Muhammad Utsman
Najati tentang psikolgi Islam. Beliau tertarik untuk memikirkan masalah
al-Quran dan psikologi ketika menulis tesisnya “Panca Indera dalam Pandangan
Ibnu Sina”. Menurutnya untuk memahami pandangan Ibnu Sina tentang psikologi ada
baiknya terlebih dahulu memahami pemahaman-pemahaman dan mendalami berbagai
konsep, pandangan, dan kajian yang ada sebelum Ibnu Sina yang sangat erat
kaitannya dengan Al-Qur’an dan Sunah.
Buku
ini berisi tentang himpunan konsep dan hakikat kejiawaan yang ada di dalam
al-Qur’an. Setiap ayat-ayat yang ada di dalam al-Qur’an di teliti isinya dari
berbagai kitab-kitab tafsir para ulama terdahulu maupun kontemporer. Kemudian
ayat-ayat yang berkaitan dengan konsep-konsep psikologi dikumpulkan dan dikemukakan
dalam buku ini.
Buku
ini bukan merupakan kajian final tentang psikologi dan al-Qur’an, akan tetapi
pengarang mengharapkan buku ini menjadi sumber inspirasi pengembangan Psikologi
Islam dimasa yang akan datang. Buku ini secara umum mengandung dasar-dasar
teoritis yang baru tentang kepribadian yang hakikat dan konsepnya sejalan
dengan kebenaran dan konsep tentang manusia yang termaktub dalam al-Qur’an.
Berikut
adalah tema-tema tentang psikologi di dalam al-Qur’an yang terdapat di dalam
buku ini ;
1.
Motif-motif Perilaku menurut Al-Qur’an
Motif adalah kekuatan penggerak yang
membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup. Motif melahirkan perilaku dan
mengantarkan serta mengarahkan makhluk hidu pada suatu tujuan atau
tujuan-tujuan tertentu. Motif sangat urgent bagi kehidupan
manusia, adanya motif mendorong manusia untuk memenuhi kebutuan hidupnya, serta
menyempurnakan kekurangan-kekurangan dalam kehidupannya dan melestarikan
kehidupannya.
Tema-tema motif didalam al-Qur’an
terdiri dari ; a) motif fisiologis yang terdiri dari motif menjaga diri dan
motif kelangsungan keturunan. b) motif mental – spiritual yang terdiri dari
motif pemilikan, motif permusuhan, motif persaingan, dan motif beragama. c)
motif bawah sadar. Kemudian pada bagian ini juga dikemukakan tentang pergulatan
antar motif, pengendalian motif, dan penyimpangan motif.
2.
Emosi di dalam persfektif al-Qur’an
Emosi erat kaitaanya dengan motif,
motif biasanya dibarengi dengan suatu kondisi yang bersifat instingtif dan emotif.
Emosi akan mengarahkan perilaku seperti halnya motif, contoh emosi takut akan
mendorong untuk lari dari bahaya.
Tema-tema emosi dalam persfektif
al-Qur’an adalah ; a) takut, b) marah, c) cinta ; terbagi menjadi cinta pada
diri sendiri, cinta kepada manusia, cinta birahi, cinta kebapakan, cinta kepada
Allah, dan cinta kepada Rasul. d) senang, e) benci, f) cemburu, g) hasud, h)
sedih, i) sesal, j) serta emosi-semosi lainnya seperti malu, hina, dan sombong
atau takabur. Kemudian
dikemukakan juga perubahan-perubahan fisik saat emosi berlangsung seperti
perubahan detak jantung, penyempitan pembuluh darah pada lambung dan usus,
mengembangnya pembuluh darah pada permukaan tubuh, kedua tangan, kaki, kepala
yang mengakibatkan derasnya aliran darah ke jantung. Sehingga volume darah di
jantung meningkat. Kemudian penulis juga mengemukakan pengendalian emosi
seperti perasaan takut mati, perasaan takut miskin, rasa marah, rasa cinta, dan
emosi lainnya.
3.
Persepsi Menurut al-Qur’an
Persepsi merupakan fungsi penting
dalam kehidupan manusia, dengan persepi makhluk hidup dapat mengetahui sesuatu
yang mengganggunya sehingga iapun menjauhinya dan mengetahui sesuatu yang
bermanfaat baginya sehingga ia pun mengupayakannya. Persepsi merupakan fungsi
yang dimiliki oleh semua manusia dan hewan.
Pada bagian ini Muhammad Utsman
Najati mengemukakan indera (mata, telinga, kulit, lidah, dan hidung) menurut
al-Qur’an. Dikemukakan juga persepsi diluar jangkauan manusia atau extrasensosy
perception seperti telestesia yaitu melihat sesuatu
kejadian yang jauh dari luar jangkauan penglihatan, telepati yaitu
mengetahui kata hati atau pikiran seseorang yang berada di tempat jauh, istihtaf yaitu
mendengar seruan atau pembicaraan dari tempat jauh diluar jangkauan indera
pendengar. Kesemuanya itu hanya ada pada segelintir orang yang memiliki bakat
khusus.
Dikemukakan juga ilusi penglihatan
atau kekeliruan dalam penglihatan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang
dilihat, seperti fatamorgana yang disangka air pada orang yang mengalami
dahaga. Selanjutnya dikemukakan juga pengaruh motivasi dan nilai terhadap
perhatian dan persepsi seperti yang terjadi pada orang-orang yang beriman
ketika mendengar ayat-ayat bisyarah yang menjadikan mereka dengan penuh
kesadaran memahami ayat-ayat al-Qur’an.
4.
Berpikir Dalam Persfektif al-Qur’an
Berpikir merupakan proses manusia
dalam menerima informasi dari luar, kemudian memproses informasi untuk mencari
maknanya, dan terakhir merespon informasi. Kemampuan hipotesis, kemampuan
berpikir membuat manusia pantas menyandang tugas sebagai khalifah dan
beribadah. Disajikan dalam buku ini langkah-langkah berpikir dalam mengatasi
masalah, yaitu merasakan adanya masalah, mengumpulkan data yang berkaitan
dengan objek masalah, membuat hipotesis, menguji hipotesis, dan menverifikasi
kebenaran hipotesis. Verifikasi kebenaran (penelitian eksperimental)
tergambarkan dalam kisah Ibrahim as. Ketika menyampaikan permintaannya kepada
Allah tentang cara mengidupkan orang mati.
Di kahir bagian ini dikemukakan
beberapa kekeliruan dalam berpikir yang disebabkan oleh berpegang pada
pemikiran-pemikiran lama, kekurangan data, dan bias emosi dan perasaan.
5.
Belajar Menurut al-Qur’an
Bagian ini membahas sumber-sumber
ilmu di dalam al-Qur’an, belajar bahasa, bagamana adam belajar bahasa, belajar
memilih dan membuat keputusan, cara-cara belajar menurut al-Qur’an (meniru/imitation,
pengalaman praktis dan trial dan error, serta berpikir), prinsip-prinsip
belajar menurut al-Qur’an yaitu motivasi, pengulangan, perhatian, partisipasi
aktif, pembagian belajar, dan perubahan perilaku secara bertahap.
6.
Ilmu Laduni Menurut al-Qur’an
Ilmu laduni diperoleh melalui ilham
dan mimpi. Ilham adalah sejenis ilmu yang dilimpahkan Allah kepada manusia dan
dimasukkan ke dalam qalbunya, shingga tersingkaplah beberapa rahasia dan
jelaslah beberapa hakikat baginya. Ilmu laduni banyak termuat didalam al-qur’an
seperti kisah daud dan sulaiman di dalam surat al-Anbiya’. Ilham bisa bersifat
ilahiah atau ilham ilahiah dan berupa al-khathiru malikiy(lintasan
pikiran dari malaikat).
Mimpi merupakan hal yang lumrah
terjadi dikalangan manusia. Para ulama dan pemikir mencoba menafsirkan mimpi
dan mengetahui penyebabnya, kesimpulannya mimpi terjadi sebagai akibat sensasi
yang dirasakan manusia saat tidur, baik sensasi dari pengaruh eksternal maupun
internal. Sebagian mimpi lainnya dianggap sebagai kontinuitas kesibukan
berpikir saat terjaga, sebagian lainnya sebagai pengingatan kembali atas masa
lalu.
Al-Qur’an menyebut adhghatsul
ahlam (mimpi yang kacau balau) yaitu mimpi yang membingungkan, kacau,
dan tidak jelas. Adapun istilah ru’ya (mimpi) yang disebutkan dalam al-qur’an
hanyalah mengandung arti mimpi yang benar, sebagaimana Allh menyampaikan wahyu
melalui mimpi kepada rasul-Nya, contohnya adalah tentang ru’ya Yusuf as. Atau
hadits-hadits qudsi dari Nabi Muhammad saw.
7.
Ingat dan Lupa Menurut al-Qur’an
Banyak ayat di dalam al-Qur’an yang
mendorong manusia untuk mengingat Allah, ayat-ayat yag terdapat di dalam
ciptaannya, mengingat bukti-bukti, petunjuk, kabar gembira, dan ancaman yang di
bawa para rasulallah. Di dalam al-Qur’an banyak pengulangan ungkapan “afala
tatadzakkarun” (tidakkah mereka ingat), “la’allahum yatadzakkarun”
(agar mereka ingat), “qalilam ma tadzakkarun” (sedikit sekali mereka
yang ingat), dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kandungan-kandungan al-Qur’an
seperti di atas menjadi konsep tentang ingat dan lupa di dalam buku ini.
Dikemukakan sub-sub konsep tentang lupa, seperti lupa dalam kaitannya dengan
memori, peristiwa, kelalaian, hilangnya perhatian, dan lupa karena gangguan
setan. Kemudian diakhir pembahasan ini dikemukakan penawar (terapi) lupa yang
ada di dalam al-Qur’an sebagai langkah preventif mencegah kelupaan.
8.
Sistem Otak Menurut al-Quran
Kajian-kajian ilmiah kontemporer
tentang anatomi dan fisiologi menemukan bahwa otak memiliki fungsi kontrol
dalam tubuh manusia, seperti area motorik yang mengatur gerak / motor tubuh
manusia, area sensoris sebagai tempat bermuaranya unsur peraba dan sensasi rasa
sakit, perubahan temperatur suhu, dan rasa. Kemudian ada area optik yang
merupakan pusat penglihatan, lalu auditori sebagai pusat pendengaran, di otak
juga merupakan tempat koordinasi pesan-pesan motorik yang akan disampaikan ke
seluruh tubuh. Otak juga merupakan pusat semua proses pemikiran tingkat tingg,
seperti belajar, berbicara, menulis, dan membaca.
Fakta-fakta ilmiah di atas kemudian
diuraikan dalam buku ini dengan mengutip ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan
tentang bagaimana otak merekam pengalaman-pengalaman sepanjang kehidupan
manusia, hubungan persepsi dan otak, dan hubungan aktivitas berfikir dengan
otak.
9.
Kepribadian Menurut al-Qur’an
Di bagian ini penulis mengemukakan
kepribadian manusia ditinjau sejak masa penciptaan manusia yang erat kaitannya
dengan unsur-unsur penciptaan tersebut. Di dalam diri manusia juga disebutkan
adanya pergulatan psikologis yang luar biasa antara keinginan baik dan
keinginan buruk. Tapi, manusia juga mampu mencapai keseimbangan psikologis atau
kepribadian yang ideal, yaitu sesuai dengan batas-batas syari’at. Kemudian
membawa kepada keseimbangan antara tuntutan-tuntutan tubuh dan roh, yang
disebut kepribadian normal.
Ada tiga pola kepribadian menurut
al-Qur’an yang dikemukakan oleh penulis, yaitu pola kepribadian mukmin, pola
kepribadian kafir, dan pola kepribadian munafik.
Manusia juga memiliki semacam
mekanisme pertahanan diri sebagaimana juga yang telah dikemukakan para psikolog
Barat, yaitu proyeksi, rasionalisasi, dan pembentukan reaksi.
Penulis juga mengemukakan perbedaan
individu menurut al-Qur’an. Kemudian perkembangan manusia menurut al-Qur’an,
yaitu sejak perkembangan pra-lahir, perkembangan pasca-lahir, dan perkembangan
yang dialami oleh indera anak.
10. Psikoterapi Menurut
al-Qur’an
Di akhir buku ini penulis mengemukakan
psikoterapi menurut pandangan al-Qur’an. Pertama-tama dikemukakan bahwa iman
memiliki pengaruh yang sangat penting dalam kejiwaan manusia, kemudian atas
dasar iman juga manusia dituntut untuk berafiliasi dengan kelompoknya (sesama
orang muslim) untuk saling menebarkan kasih sayang, dimana fitrah manusia
adalah tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Sehingga al-Qur’an
diyaskini sebagai penyembuh atau terapi bagi problem-problem manusia.
Secara implisit penulis menyampaikan
bahwa terapi-terapi al-Qur’an terkandung di dalam keseluruhan ajaran Islam,
yaitu ajaran tentang aqidah tauhid, ajran tentang ibadah (sholat, puasa, zakat,
dan haji), ajaran tentang kesabaran, perintah untuk berzikir, dan bertaubat
atau dosa-dosa.
4. PSIKOLOGI
DAN KEPRIBADIAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN
Para
psikolog memandang kepribadian sebagai struktur dan proses psikologis yang
tetap, yang menyusun pengalaman-pengalaman individu serta membentuk berbagai
tindakan dan respons individu terhadap lingkungan tempat hidup.[5] Dalam masa
pertumbuhannya, kepribadian bersifat dinamis, berubah-ubah dikarenakan pengaruh
lingkungan, pengalaman hidup, ataupun pendidikan. Kepribadian tidak terjadi
secara serta merta, tetapi terbentuk melalui proses kehidupan yang panjang.
Dengan demikian, apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk, kuat atau
lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor yang
mempengaruhi dalam perjalanan kehidupan seseorang tersebut.[6]
Pergulatan Psikologis
Dalam
kepribadian manusia terkandung sifat-sifat hewan dan sifat-sifat malaikat yang
terkadang timbul pergulatan antara dua aspek kepribadian manusia tersebut.
Adakalanya, manusia tertarik oleh kebutuhan dan syahwat tubuhnya, dan
adakalanya ia tertarik oleh kebutuhan spiritualnya.
Al-Qur’an
mengisyaratkan pergulatan psikologis yang dialami oleh manusia, yakni antara
kecenderungan pada kesenangan-kesenangan jasmani dan kecenderungan pada
godaan-godaan kehidupan duniawi. Jadi, sangat alamiah bahwa pembawaan manusia
tersebut terkandung adanya pergulatan antara kebaikan dan keburukan, antara
keutamaan dan kehinaan, dan lain sebagainya. Untuk mengatasi pergulatan antara
aspek material dan aspek spiritual pada manusia tersebut dibutuhkan solusi yang
baik, yakni dengan menciptakan keselarasan di antara keduanya.
Disamping
itu, Al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa manusia berpotensi positif dan
negatif. Pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat daripada potensi
negatifnya. Hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dibanding daya tarik
kebaikan.[7]
Potensi
positif dan negatif manusia ini banyak diungkap oleh Al-Qur’an. Di antaranya
ada dua ayat yang menyebutkan potensi positif manusia, yaitu Surah at-Tin [95]
ayat 5 (manusia diciptakan dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya) dan
Surah al-Isra’ [7] ayat 70 (manusia dimuliakan oleh Allah dibandingkan dengan
kebanyakan makhlik-makhluk yang lain). Di samping itu, banyak juga ayat
Al-Qur’an yang mencela manusia dan memberikan cap negatif terhadap manusia. Di
antaranya adalah manusia amat aniaya serta mengingkari nikmat (Q.S. Ibrahim
[14]: 34), manusia sangat banyak membantah (Q.S. al-Kahfi [18]: 54), dan
manusia bersifat keluh kesah lagi kikir (Q.S. al-Ma’arij [70]: 19).[8]
Sebenarnya,
dua potensi manusia yang saling bertolak belakang ini diakibatkan oleh
perseteruan di antara tiga macam nafsu, yaitu nafsu ammarah bi as-suu’ (jiwa
yang selalu menyuruh kepada keburukan), lihat Surah Yusuf [12] ayat 53; nafsu
lawwamah (jiwa yang amat mencela), lihat Surah al-Qiyamah [75] ayat 1-2; dan
nafsu muthma’innah (jiwa yang tenteram), lihat Surah al-Fajr [89] ayat
27-30.[9] Konsepsi dari ketiga nafsu tersebut merupakan beberapa kondisi yang
berbeda yang menjadi sifat suatu jiwa di tengah-tengah pergulatan psikologis
antara aspek material dan aspek spiritual.[10]
Pola-pola Kepribadian Menurut
Al-Qur’an
Kepribadian
merupakan “keniscayaan”, suatu bagian dalam (interior) dari diri kita yang
masih perlu digali dan ditemukan agar sampai kepada keyakinan siapakah diri
kita yang sesungguhnya. Dalam Al-Qur’an Allah telah menerangkan model
kepribadian manusia yang memiliki keistimewaan dibanding model kepribadian
lainnya. Di antaranya adalah Surah al-Baqarah [2] ayat 1-20. Rangkaian ayat ini
menggambarkan tiga model kepribadian manusia, yakni kepribadian orang beriman,
kepribadian orang kafir, dan kepribadian orang munafik.[11]
Berikut
ini adalah sifat-sifat atau ciri-ciri dari masing-masing tipe kepribadian
berdasarkan apa yang dijelaskan dalam rangkaian ayat tersebut.
a. Kepribadian Orang Beriman
(Mu’minun)
Dikatakan beriman bila ia percaya
pada rukun iman yang terdiri atas iman kepada Allah swt., iman kepada para
malaikat-Nya, iman kepada Kitab-kitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, percaya
pada Hari Akhir, dan percaya pada ketentuan Allah (qadar/takdir). Rasa percaya
yang kuat terhadap rukun iman tersebut akan membentuk nilai-nilai yang
melandasi seluruh aktivitasnya. Dengan nilai-nilai itu, setiap individu
seyogianya memiliki kepribadian yang lurus atau kepribadian yang sehat. Orang
yang memiliki kepribadian lurus dan sehat ini memiliki ciri-ciri antara lain:
Akan bersikap moderat dalam segala
aspek kehidupan,
Rendah hati di hadapan Allah dan
juga terhadap sesama manusia,
Senang menuntut ilmu,
Sabar,
Jujur, dan lain-lain.[12]
Gambaran manusia mukmin dengan
segenap ciri yang terdapat dalam Al-Qur’an ini merupakan gambaran manusia
paripurna (insan kamil) dalam kehidupan ini, dalam batas yang mungkin dicapai
oleh manusia. Allah menghendaki kita untuk dapat berusaha mewujudkannya dalam
diri kita. Rasulullah saw. telah membina generasi pertama kaum mukminin atas
dasar ciri-ciri tersebut. Beliau berhasil mengubah kepribadian mereka secara
total serta membentuk mereka sebagai mukmin sejati yang mampu mengubah wajah
sejarah dengan kekuatan pribadi dan kemuliaan akhlak mereka.[13] Singkatnya,
kepribadian orang beriman dapat menjadi teladan bagi orang lain.
b. Kepribadian Orang Kafir (Kafirun)
Ciri-ciri orang kafir yang
diungkapkan dalam Al-Qur’an antara lain:
Suka putus asa,
Tidak menikmati kedamaian dan
ketenteraman dalam kehidupannya,
Tidak percaya pada rukun iman yang
selama ini menjadi pedoman keyakinan umat Islam,
Mereka tidak mau mendengar dan
berpikir tentang kebenaran yang diyakini kaum Muslim,
Mereka sering tidak setia pada
janji, bersikap sombong, suka dengki, cenderung memusuhi orang-orang beriman,
Mereka suka kehidupan hedonis,
kehidupan yang serba berlandaskan hal-hal yang bersifat material. Tujuan hidup
mereka hanya kesuksesan duniawi, sehingga sering kali berakibat
ketidakseimbangan pada kepribadian,
Mereka pun tertutup pada pengetahuan
ketauhidan, dan lain-lain.
Ciri-ciri orang kafir sebagaimana
yang tergambar dalam Al-Qur’an tersebut menyebabkan mereka kehilangan
keseimbangan kepribadian, yang akibatnya mereka mengalami penyimpangan ke arah
pemuasan syahwat serta kesenangan lahiriah dan duniawi. Hal ini membuat mereka
kehilangan satu tujuan tertentu dalam kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah
dan mengharap rida-Nya untuk mengharap magfirah serta pahala-Nya di dunia dan
akhirat.[14]
c. Kepribadian Orang Munafik (Munafiqun)
Munafik adalah segolongan orang yang
berkepribadian sangat lemah dan bimbang. Di antara sifat atau watak orang
munafik yang tergambar dalam Al-Qur’an antara lain:
Mereka “lupa” dan menuhankan sesuatu
atau seseorang selain Allah swt.,
Dalam berbicara mereka suka
berdusta,
Mereka menutup pendengaran,
penglihatan, dan perasaannya dari kebenaran,
Orang-orang munafik ialah kelompok
manusia dengan kepribadian yang lemah, peragu, dan tidak mempunyai sikap yang
tegas dalam masalah keimanan.
Mereka bersifat hipokrit, yakni
sombong, angkuh, dan cepat berputus asa.
Ciri kepribadian orang munafik yang
paling mendasar adalah kebimbangannya antara keimanan dan kekafiran serta
ketidakmampuannya membuat sikap yang tegas dan jelas berkaitan dengan keyakinan
bertauhid.
Dengan demikian, umat Islam sangat
beruntung mendapatkan rujukan yang paling benar tentang kepribadian dibanding
teori-teori lainnya, terutama diyakini rujukan tersebut adalah wahyu dari Allah
swt. yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw., manusia teladan kekasih Allah.
Oleh karena itu pula, Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah swt. ke muka bumi
untuk memainkan peran sebagai model insan kamil bagi umat manusia. Kepribadian
dalam kehidupan sehari-hari mengandung sifat-sifat manusiawi kita, alam
pikiran, emosi, bagian interior kita yang berkembang melalui interaksi
indra-indra fisik dengan lingkungan. Namun lebih dalam lagi, kepribadian
sesungguhnya merupakan produk kondisi jiwa (nafs) kita yang saling berhubungan.
Atau, dapat dikatakan pula bahwa kepribadian seseorang berbanding lurus dengan
kondisi jiwanya (nafs).[15]
Berangkat dari teori kepribadian di
atas, maka kita dapat membagi kepribadian manusia menjadi dua macam, yaitu:
1. Kepribadian kemanusiaan
(basyariyyah)
Kepribadian kemanusiaan di sini
mencakup kepribadian individu dan kepribadian ummah. Kepribadian individu di
antaranya melliputi ciri khas seseorang dalam bentuk sikap, tingkah laku, dan
intelektual yang dimiliki masing-masing secara khas sehingga ia berbeda dengan
orang lain. Dalam pandangan Islam, manusia memang mempunyai potensi yang
berbeda (al-farq al-fardiyyah) yang meliputi aspek fisik dan psikis.
Selanjutnya, kepribadian ummah meliputi ciri khas kepribadian muslim sebagai
suatu ummah (bangsa/negara) muslim yang meliputi sikap dan tingkah laku ummah
muslim yang berbeda dengan ummah lainnya, mempunyai ciri khas kelompok dan
memiliki kemampuan untuk mempertahankan identitas tersebut dari pengaruh luar,
baik ideologi maupun lainnya yang dapat memberikan dampak negatif.[16]
2. Kepribadian samawi (kewahyuan)
Yaitu, corak kepribadian yang
dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab suci Al-Qur’an, sebagaimana
termaktub dalam firman Allah sebagai berikut.
وَأَنَّ هَذَا
صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ
عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ .
Dan, bahwa (yang kami perintahkan
ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu
mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu
dari jalannya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Q.S.
al-An’am [6]: 153)
Itulah beberapa gambaran mengenai
psikologi dan kepribadian manusia dalam Al-Qur’an. Tentu gambaran di atas belum
sepenuhnya berhasil meng-cover keseluruhan maksud Al-Qur’an mengenai manusia
dengan segala kepribadiannya yang sangat kompleks. Sebab, begitu luasnya aspek
kepribadian manusia sehingga usaha untuk mengungkap hakikat manusia merupakan
pekerjaan yang sukar.
Walaupun demikian, paling tidak
penjelasan di atas dapat memberikan gambaran bahwa manusia memiliki dua potensi
yang saling berlawanan, yaitu potensi baik dan potensi buruk. Dua potensi ini
lantas memilah manusia ke dalam tiga kategori, yaitu mukmin, kafir, dan
munafik. Pembinaan kepribadian manusia lewat pendidikan yang baik akan menuntun
manusia agar bisa memperkokoh potensi baiknya sehingga ia bisa memaksimalkan
tugas utamanya untuk beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah Allah di muka
bumi.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Telah dikemukakan di atas tentang
tema-tema psikologi di dalam al-Qur’an atau konsep-konsep yang berkaitan dengan
psikologi. Dari tema-tema yang dikemukakan di atas banyak juga kita temui dalam
konsep-konsep teori psikologi Barat, seperti motif, motivasi, memori, berfikir,
belajar, mekanisme pertahanan diri, otak, dan sebagainya.
Konsep-konsep
psikologi di dalam al-Qur’an yang dikemukakan Muhammad Utsman Najati belumlah
sempurna. Sebab masih bersifat mistis atau bersifat mistifikasi, yaitu
mengungkapkan konsep-konsep psikologi di dalam al-Qur’an sebatas ayat-ayat atau
dalil-dalil nash yang ditafsirkan mengandung konsep psikologi. Namun, secara
kongkrit masih belum bisa di buktikan. Sehingga masih membutuhkan riset-riset
ilmiah atau teori-teori lain yang mendukung konsep-konsep tersebut menjadi
lebih mudah di fahami dan ditelaah secara ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
Dalyono,
M., Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2001.
Iskandar Dr. M.Pd. 2009. Psikologi Pendidikan.
Jambi: Gaung Persada (PS) Press
Makmun, Abin Syamsuddin. 2004. Psikologi
Kependidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ningsih,
Asri Budi, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2005.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/psikologi-pendidikan-dan-guru/. Diakses pada 2 Desember 2014
Fauzi, Ahmad.1997.Psikologi umum.Bandung:CV.
Pustaka Setia
Sumanto, Wasty.1988.Pengantar Psikologi.Jakarta:
PT. Bina Aksara
Ahmadi, Abu.1992.Psikologi Umum. Jakarta: PT.
Rineka Cipta
Ancok, D., & Nashori, F., 1994,
Psikologi Islami, Solusi Islam atas
Problem-problem Psikologi,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar Mubarok, Achmad. 2000.
Solusi Krisis Keruhanian Manusia Modern: Jiwa dalam Al
Qur’an
. Jakarta: Paramadina. Pizaro. 2012.
